Tentang Pelajar Muslim dan Negeri Van Oranje

Mendapatkan kesempatan untuk bisa melanjutkan pendidikan master di negeri kincir angin merupakan salah satu pengalaman berharga bagi saya selain karena Belanda punya hubungan yang cukup erat dengan Indonesia, negara ini juga merupakan salah satu negara yang memiliki muslim minoritas. Adapun pada tulisan saya kali ini saya ingin membagikan pengalaman saya, khususnya sebagai seorang muslim, selama menempuh pendidikan di Belanda.

Sulit untuk beribadah,mungkin adalah salah satu alasan yang menyebabkan banyak pelajar muslim urung melanjutkan studi ke Belanda. Namun tidak demikian halnya yang saya rasakan selama menempuh pendidikan di Wageningen University, Belanda. Kampus yang terletak di kota kecil, Wageningen, ini cukup memahami kebutuhan mahasiswa muslim yang banyak terdapat di kampus ini dengan menyediakan ruang ibadah (silent room) di salah satu gedung kampus. Ruang ibadah ini memang tidak terdapat di semua gedung kampus, namun masih terdapat alternatif tempat lain yang dapat digunakan untuk shalat, yaitu kelas-kelas kosong. Jikapun saat kita hendak shalat tidak terdapat kelas kosong, tidak jarang pula mahasiswa muslim melaksanakan shalat di lorong dan bagian bawah tangga yang sepi.

Adapun untuk mesjid saat ini telah banyak berdiri di sejumlah kota besar seperti Amsterdam, Rotterdam dan Den Haag karena banyaknya masyarakat muslim etnis Turki dan Maroko yang menetap di Belanda. Meskipun jarak masjid dengan perumahan mahasiswa tidak selalu berdekatan dan sanggup dicapai dengan sepeda, namun setidaknya fasilitas transportasi dalam kota Belanda sudah cukup baik untuk menjangkau sejumlah masjid tersebut. Tidak ada perbedaan yang berarti antara muslim Indonesia maupun muslim Turki dan Maroko, keduanya juga sangat ramah dan bersahabat. Pernah suatu hari saya shalat di salah satu masjid di kota Den Haag, selepas shalat seorang muslim Maroko menegur saya dalam bahasa arab dan mengajak untuk mampir makan kerumahnya.

Salah Satu Mesjid di Amsterdam



Salah Satu Masjid di Utrecht

Berbenturan antara jadwal ibadah shalat Jum'at dengan jadwal kuliah juga tidak jarang terjadi. Namun tidak perlu panik, karena sebagian dosen telah mengerti dan maklum jika kita datang terlambat ke kelas, dengan syarat minta izin melalui email terlebih dahulu. Salah satu teman saya, contohnya, pernah mendapatkan jadwal praktikum yang berbentrokan dengan shalat Jum'at selama satu semester. Adapun kemudian teman saya tersebut mengirimkan email kepada koordinator mata kuliah yang bersangkutan, sehingga jadwal praktikum yang bersangkutan digeser ke kelas dengan jadwal yang lain.

Kerja kelompok merupakan hal lain yang tidak terelakkan dalam dunia perkuliahan. Untuk mengerjakan tugas kelompok, Hari Jum'at seringkali dijadikan pilihan, sebab masyarakat Belanda secara umum memiliki budaya untuk meniadakan aktivitas diakhir pekan dan menggunakan akhir pekan untuk family time. Adapun mahasiswa-mahasiswa asal Belanda yang pernah saya temui ternyata juga bersahabat dan mengerti akan kewajiban saya untuk melaksanakan ibadah shalat Jum'at, sehingga mereka mengizinkan saya datang terlambat selepas menunaikan ibadah.

Mengenai makanan juga tidak perlu khawatir, karena toko daging halal dan restoran halal telah banyak terdapat di kota-kota Belanda. Restoran Indonesia juga cukup banyak tersedia, baik yang dibuka oleh orang Indonesia asli maupun oleh orang Belanda yang menggemari makanan Indonesia.
Minggu, 05 Februari 2017
Posted by Hafi Munirwan

The Iceberg Illusion: Sebuah Cerita Mengenai Rangkaian Kegagalan dan Pencapaian

Bisa mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan studi master di salah satu universitas terbaik Belanda, banyak orang yang berkata bahwa saya melalui jalur yang sangat mudah dalam meraih salah satu cita-cita saya ini. Beberapa lainnya bahkan berkata bahwa saya sangat beruntung dan bisa mendapatkan segala hal yang saya inginkan secara instan. Terkadang memang mudah sekali bagi kita untuk menilai sesuatu yang bahkan tidak kita ketahui, ibarat melihat gunung es, yang terlihat mungkin hanya yang ada dipermukaan, padahal mungkin yang ada di bawahnya adalah rangkaian hal jauh lebih kompleks.

The Iceberg Illusion
Source: http://examinedexistence.com

Sejak kecil, saya bukanlah orang yang spesial secara akademis. Mulai dari SD sampai SMA, nama saya hanya pernah dua kali dipanggil dalam rentetan tiga urutan nama teratas saat pembagian rapor. Selebihnya, saya tidak cukup berhasil untuk membuat orang tua bangga. Kekurangan motivasi, mungkin adalah salah satu penyebabnya. Dari seluruh mata pelajaran yang ada, tidak ada satupun diantaranya yang benar-benar saya sukai. Adapun tata kota adalah ilmu yang saya sukai sejak kecil, karena saya sangat hobi memainkan berbagai strategy game yang berkaitan dengan simulasi kota seperti SimCity, Tropico, dsb. Oleh karena itu, sejak tahun pertama di bangku SMA, saya telah memasang target untuk melanjutkan pendidikan S-1 di jurusan perencanaan wilayah dan kota, Universitas Gadjah Mada. Memasang target yang relatif sulit, terutama bagi anak daerah seperti saya, saya merasa cukup beruntung berada dalam lingkungan yang sangat optimis. Ketimbang menertawakan mimpi tinggi saya, teman-teman saya saat itu justru memasang target yang lebih tinggi. Manusia bisa berencana, namun hasil tidak selalu sesuai dengan yang kita harapkan. Singkat cerita, beberapa teman saya berhasil lulus saat itu, sedangkan beberapa lainnya gagal, termasuk saya. Saya pun harus mengubur cita-cita ini untuk sementara.

Kecewa sudah pasti, namun saya yakin ada kebaikan dibalik kegagalan tersebut, dan saya pun mencoba berfikir positif karena dari kegagalan-lah kita dapat belajar betapa berharganya sebuah pencapaian. Gagal di tahun pertama, saya pun tidak ingin menyia-siakan kesempatan di tahun kedua dengan belajar lebih giat. Tahun berikutnya, saya kembali mengikuti SNMPTN dengan pilihan yang sama dan akhirnya saya pun diterima pada pilihan yang sama.

"Dari kegagalanlah kita dapat belajar arti dari sebuah pencapaian."

Achievement 1: Top University Indonesia

Saya adalah orang yang suka men-challenge diri sendiri untuk melangkah setidaknya satu langkah kedepan. Oleh karena itu, memasuki tahun pertama di bangku perkuliahan, saya kembali men-challenge diri saya dengan memasang target yang lebih tinggi lagi, yaitu melanjutkan studi S-2 di Eropa. Motivasi saya sangat sederhana, sebagai seorang yang mendalami ilmu tata kota, kota-kota Eropa seringkali dijadikan sebagai best-practice, sehingga saya merasa harus menyaksikan berbagai hal yang saya pelajari tidak hanya melalui tulisan, namun juga menyaksikannya secara langsung.

Sadar kemampuan bahasa inggris saya sangat buruk, saya pun mulai mengambil kursus bahasa inggris bahkan sebelum masa perkuliahan dimulai. Target saya adalah memiliki skor TOEFL minimal 550, agar dapat mendaftar di berbagai lembaga pemberi beasiswa selepas menamatkan pendidikan S-1. Jalan terjal lagi-lagi menghadang, mendapatkan skor 550 itu tidak semudah membalikkan telapak tangan, apalagi untuk orang yang memulai dari nol seperti saya. Namun melalui proses yang cukup panjang, yaitu sekitar lima tahun mempersiapkan diri secara mandiri maupun dengan mengikuti kursus, dan lima kali pula mengikuti tes TOEFL, akhirnya saya pun mendapatkan skor sesuai dengan target.

Sedikit mengenai dunia perkuliahan, saya bukan orang yang tergolong cerdas jika dibandingkan dengan teman-teman seangkatan saya yang lainnya. Pada saat wisuda, dari 12 mahasiswa dari angkatan saya yang diwisuda, hanya saya satu-satunya yang tidak mendapatkan predikat cumlaude. Bahkan saya pernah mendapatkan Indeks Prestasi (IP) 2,* (*=sekian). Saat itu saya merasa kecewa, namun saya memilih untuk bangkit dan berusaha lebih keras, sehingga pada semester-semester berikutnya saya mampu memperbaiki nilai-nilai tersebut.

Mendapatkan gelar sarjana di pertengahan tahun 2015, sayapun mencoba mengikuti seleksi salah satu lembaga BUMN, dan lagi-lagi saya ditolak, padahal saat itu yang mendaftar untuk jurusan yang sama hanya tiga orang, dan hanya saya satu-satunya yang tidak diterima. Sebulan kemudian, saya pun mencoba mendaftar untuk mengikuti seleksi beasiswa daerah. Mungkin karena minim akan persiapan, saya pun kembali gagal dalam seleksi beasiswa ini.

Akhirnya, jawaban dari kegagalan-kegagalan tersebut muncul selang lima bulan kemudian. Saya diterima oleh salah satu lembaga penyedia beasiswa untuk melanjutkan pendidikan S-2 di Belanda.

Achievement 2: Top University Worldwide

Untuk teman-teman saya yang sedang berjuang mencapai apapun mimpinya, jangan pernah menyerah. Beberapa proses mungkin dapat kita lalui dengan singkat, namun beberapa lainnya mungkin membutuhkan proses yang sangat panjang. Luruskan niat dan langkah, bersabar, dan kerja-keras adalah kuncinya. Temukan jalan yang kamu sukai, karena seberat apapun jalan dan proses yang ditempuh jika didasari oleh rasa suka atau passion, maka akan terasa jauh lebih menyenangkan.

Berkesempatan merasakan pendidikan di berbagai tingkat, mulai di tingkat daerah, nasional, dan internasional, saya pun menyimpulkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan baik antara pelajar daerah, nasional, dan internasional dari segi kecerdasan. Yang membatasi kita hanyalah bahasa. Pecahkan belenggu bahasa, akan banyak kesempatan yang akan terbuka bagi kita untuk menjelajahi dunia."

Wageningen, Netherlands
10 Desember 2016

Hafi Munirwan
Jumat, 09 Desember 2016
Posted by Hafi Munirwan

Mempersiapkan Diri Untuk Studi S2/S3

Assalamualaikum wr.wb,
Salam sejahtera untuk kita semua.

Pada kesempatan kali ini saya ingin berbagi mengenai pengalaman saya dalam mempersiapkan diri untuk studi S2.

Jauh sebelum saya menyelesaikan pendidikan S1, tepatnya sejak lulus SMA, saya sudah bercita-cita untuk melanjutkan studi di Eropa. Motivasi saya saat itu sederhana, yaitu ingin mengembangkan jaringan di dunia internasional, karena dunia terlalu luas untuk hanya menempati satu tempat saja tanpa menjelajahi bagian dunia yang lain. Hanya saja, waktu itu saya belum menetapkan negara dan universitas yang ingin saya tuju.

Setiap orang punya keinginan, tetapi untuk mewujudkannya butuh usaha yang tidak mudah. Hal mutlak dan utama yang harus kita miliki jika ingin bertahan di negeri orang adalah kemampuan berbahasa asing, dalam hal ini yang dimaksud adalah berbahasa inggris. Oleh karena itu, sebelum saya menginjak kuliah di bangku sarjana yaitu pada tahun 2010, saya sudah mulai mendalami bahasa inggris dengan mengikuti kursus di Banda Aceh saat itu, yaitu di International English School (IES). Hal ini menjadi salah satu pengalaman yang unik, karena saya menjadi siswa termuda di kelas ini, sedangkan siswa yang lain rata-rata sudah kuliah semester akhir bahkan ada yang sedang mempersiapkan studi S3. 

Selama kuliah pun saya terus mengikuti kursus di SWIFT English School dan CILACS UII, Yogyakarta. Setelah kuliah, saya berangkat ke Kampung Inggris Pare, dan belajar di TEST English School dan Global English.

InsyaAllah, hasil tidak akan mengingkari usaha. Maret 2016 saya mengikuti tes IELTS dan kemudian memperoleh skor sesuai dengan yang dibutuhkan untuk meng-apply ke kampus dan beasiswa. Berdasarkan pengalaman saya dalam mempersiapkan diri untuk studi S2/S3 yang panjang, saya ingin sedikit merangkum tahapan-tahapan tersebut menurut saya pada tahap-tahap berikut:


(Image source: www.huffingtonpost.com)

  • Tahap 1: Mendapatkan Sertifikat Bahasa
Tahap Pertama mempersiapkan diri untuk studi S2/S3 di luar negeri menurut saya adalah mendapatkan sertifikat bahasa, yaitu IELTS/TOEFL IBT. Kenapa harus mendapatkan sertifikat bahasa dulu? karena dengan bermodalkan sertifikat bahasa ini, maka kita hampir dapat meng-apply ke seluruh universitas dan beasiswa yang tersedia.

  • Tahap 2: Membuat List Universitas Tujuan

Disela-sela kegiatan belajar bahasa, kita bisa sekaligus masuk ke Tahap Kedua, yaitu membuat list universitas tujuan. Memilih universitas ini sebaiknya didasarkan pada alasan yang kuat dan logis, seperti diantaranya: peringkat universitas secara umum, peringkat universitas berdasarkan bidang keilmuan yang ingin kita dalami (dapat dilihat di www.timeshighereducation.com atau di www.topuniversities.com), mata kuliah (course) yang ditawarkan, fasilitas yang disediakan seperti laboratorium, hingga ketersediaan dosen dengan keahlian sesuai dengan yang ingin kita dalami. Tentukan setidaknya tiga kampus tujuan yang kemudian diurutkan berdasarkan prioritas. Tujuannya adalah sebagai backup jika kita terkendala pada proses di kampus yang satu, maka masih terdapat dua opsi kampus lainnya yang tersedia.

  • Tahap 3: Mendapatkan Letter of Acceptance (LoA)

Setelah memperoleh sertifikat bahasa, kita bisa langsung mendaftar ke kampus yang ingin kita tuju sesuai dengan list yang telah kita tentukan sebelumnya. Sistem yang diterapkan disetiap kampus berbeda-beda. Ada yang mempersyaratkan dokumen seperti rekomendasi dosen, portofolio, CV, dan lain-lain, namun ada pula yang hanya mempersyaratkan dokumen yang lebih sedikit. Untuk melihat dokumen yang dipersyaratkan oleh kampus, kita bisa langsung mengunjungi website kampus tersebut. Biasanya dokumen-dokumen yang disyaratkan sudah tertera jelas di website tersebut.

Lama proses penerbitan LoA setiap kampus juga berbeda-beda, ada yang cuma beberapa hari, ada yang beberapa minggu, bahkan ada yang berbulan-bulan. Hal ini mungkin menjadi salah satu kendala, akan tetapi kita memiliki lebih banyak opsi andaikan salah satu kampus yang kita tuju berkendala karena telah menentukan backup sebelumnya. Saran dari saya, carilah kenalan langsung maupun tidak langsung melalui teman yang telah lebih dulu melanjutkan studi di kampus tersebut karena kita akan tahu lebih banyak mengenai kampus tersebut.

  • Tahap 4: Memilih Lembaga Penyedia Beasiswa
Saat ini, terdapat banyak sekali beasiswa yang dapat kita coba, seperti LPDP, Stuned, Chevening, AAS, Fullbright, dsb. Setiap beasiswa ini memiliki proses dan kebijakannya masing-masing. Sangat penting bagi pendaftar beasiswa untuk mengetahui hal tersebut. Untuk mengetahui lebih lanjut tentang detail setiap beasiswa tersebut bisa langsung diakses pada websitenya dan karena saya sebelumnya meng-apply pada beasiswa LPDP, saya akan share Visi LPDP yaitu:

" Menjadi lembaga pengelola dana terbaik di tingkat regional untuk mempersiapkan pemimpin masa depan serta mendorong inovasi bagi Indonesia yang sejahtera, demokratis, dan berkeadilan."

Selain itu, LPDP juga memiliki bidang prioritas yaitu: teknik, sains, pertanian, kelautan dan perikanan, kedokteran dan kesehatan, akuntasi dan keuangan, hukum, agama, pendidikan, sosial, ekonomi, budaya, seni dan bahasa, dan bidang lainnya.

Sedangkan tema prioritas meliputi: kemaritiman, perikanan, pertanian, ketahanan energi, ketahanan pangan, industri kreatif, manajemen pendidikan, teknologi transportasi, teknologi pertahanan dan keamanan, teknologi informasi dan komunikasi, teknologi kedokteran dan kesehatan, keperawatan, lingkungan hidup, keagamaan, keterampilan (vokasional), ekonomi/keuangan syariah, budaya/bahasa, dan hukum bisnis internasional.

Jika kita hendak mendaftar beasiswa LPDP, maka pastikan kita memiliki visi dan misi yang sama dengan lembaga ini. Selain itu, akan lebih baik pula jika kita memilih program studi yang sejalan dengan bidang dan tema prioritas yang telah ditetapkan.

  • Tips 5: Mempersiapkan Diri Untuk Proses Seleksi Beasiswa
Tips-tips mempersiapkan diri untuk proses seleksi khusunya untuk beasiswa pemerintah indonesia (BPI) LPDP sudah pernah saya share sebelumnya pada (http://hafimunirwan.blogspot.co.id/2015/12/perjalanan-mengikuti-seleksi-beasiswa.html). Untuk informasi lebih detail bisa diakses pada link tersebut.

Sekian sharing dari saya kali ini, semoga bermanfaat bagi para pembaca sekalian. Kurangilah berkompetisi, perbanyaklah berkolaborasi.

Wassalam.
Senin, 06 Juni 2016
Posted by Hafi Munirwan

Inovasi Untuk Menekan Penggunaan Kantong Plastik Melalui Skema Insentif dan Disinsentif di Kota Banda Aceh

Latar Belakang
Kota merupakan satuan/unit wilayah yang identik dengan aktivitas urbanisasi serta kepadatan penduduk yang tinggi. Perkembangan jumlah penduduk di kawasan perkotaan merupakan fenomena global yang sekaligus menjadikan hal ini sebagai salah satu isu yang paling menarik untuk dibahas, dimana pada tahun 1950 jumlah penduduk yang tinggal di kawasan perkotaan hanya  30%, namun kemudian angka ini meningkat secara drastis setiap tahunnya dan pada tahun 2014 telah mencapai angka 54%. Tidak berhenti sampai disitu, angka ini diperkirakan akan terus meningkat dan menyentuh angka 66% pada tahun 2050 (PBB, 2014).
Meningkatnya jumlah penduduk, terjadi seiring dengan munculnya berbagai permasalahan di kawasan perkotaan. Tidak terkecuali dengan permasalahan lingkungan, dimana kebutuhan terhadap air bersih, lahan, dan listrik turut meningkat. Dari sektor persampahan, volume jumlah sampah yang dihasilkan juga turut meningkat. Hal ini menjadi permasalahan yang penting untuk diperhatikan terutama di negara berkembang dimana dominan penduduknya masih memiliki penghasilan yang rendah sehingga masyarakat seringkali hanya mengutamakan aspek ekonomi dan mengabaikan aspek sosial dan lingkungan. Sehingga, pembangunan yang terjadi belum menggunakan pendekatan pembangunan berkelanjutan (sustainable development).

Menilik Permasalahan Sampah Plastik di Kota Banda Aceh
Kota Banda Aceh sebagai bagian dari kota yang berada di negara berkembang, tidak terlepas dari tren urbanisasi dan pertumbuhan jumlah penduduk. Berdasarkan data dari BPS Kota Banda Aceh (2015), jumlah penduduk Kota Banda Aceh pada tahun 2014 telah mencapai angka 249.499 jiwa, bertambah lebih dari 20.000 jiwa dari tahun 2013.
Jumlah penduduk yang terus bertambah ini berdampak kepada tingginya volume sampah di Kota Banda Aceh. Menurut Dinas Kebersihan dan Keindahan Kota Banda Aceh (DK3), jumlah sampah yang dihasilkan di Kota Banda Aceh rata-rata 187 ton setiap harinya. Dari jumlah tersebut, sampah plastik memberikan kontribusi yang cukup besar dengan menempati peringkat ketiga terbanyak setelah sampah basah dan sampah kertas, dengan jumlah yang mencapai 82,90 m³/hari.

Perkembangan Volume Sampah di Kota Banda Aceh Tahun 2011-2014
No.
Komponen Sampah
2011
2012
2013
2014
m³/hari
m³/hari
m³/hari
m³/hari
1.
Sampah Basah
415,00
432,00
283,00
406,60
2.
Kertas
111,00
118,20
99,60
97,51
3.
Sampah Plastik
82,00
86,20
88,60
82,90
4.
Kayu/Ranting
29,20
31,20
18,60
23,79
5.
Logam
17,00
16,30
15,80
13,30
6.
Kaca/Gelas
16,20
15,40
30,80
26,90
7.
Karet/Kulit
10,50
11,50
18,60
6,10
8.
Kain
6,40
6,50
49,40
11,40
9.
Lain-lain
2,10
2,70
6,40
3,50
Jumlah
680,00
689,40
716,40
672,00
Sumber: DK3 dalam Pemerintah Kota Banda Aceh, 2015
Merespon permasalahan tingginya volume sampah plastik, pemerintah Kota Banda Aceh kemudian turut mendukung program pemerintah nasional dengan menerapkan kebijakan kantong plastik berbayar. Melalui kebijakan ini, masyarakat diharuskan membayar Rp.500/penggunaan kantong plastik. Disatu sisi, biaya yang relatif murah ini memang tidak terlalu memberatkan bagi sebagian masyarakat sehingga mereka tetap menggunakan kantong plastik seperti biasa dengan konsekuensi tambahan harus membayar, akan tetapi disisi lain kebijakan ini merupakan suatu langkah yang positif untuk memberikan edukasi dan menyadarkan masyarakat mengenai pentingnya mengurangi penggunaan kantong plastik. Dengan menyadarkan masyarakat, pemerintah kedepan dapat menekan volume sampah plastik di Kota Banda Aceh yang saat ini memang didominasi oleh sampah yang berasal dari konsumsi rumah tangga (Pemerintah Kota Banda Aceh, 2015).

(Sumber: www.kebersihan.bandaacehkota.go.id)

Inovasi Untuk Menekan Penggunaan Kantong Plastik di Kota Banda Aceh
Pada dasarnya, penerapan kebijakan kantong plastik berbayar sedikit-banyaknya telah berhasil dalam hal memberikan edukasi kepada masyarakat untuk lebih peduli dan mengurangi penggunaan kantong plastik. Akan tetapi, tidak sedikit pula masyarakat yang belum tergerak untuk mengurangi konsumsi kantong plastik. Oleh karena itu, seharusnya pemerintah tetap memberikan inovasi-inovasi lain untuk menyelesaikan permasalahan sampah plastik di Kota Banda Aceh. Salah satu pendekatan yang dapat digunakan adalah melalui penerapan skema insentif dan disinsentif.
Berdasarkan UU No. 32 Tahun 2009 Tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, Insentif merupakan upaya memberikan dorongan atau daya tarik secara moneter dan/atau non-moneter kepada setiap orang ataupun pemerintah agar melakukan kegiatan yang berdampak positif pada cadangan sumberdaya alam dan kualitas fungsi lingkungan hidup. Sedangkan disinsentif adalah pengenaan beban atau ancaman secara moneter dan/atau non-moneter kepada setiap orang ataupun pemerintah agar mengurangi kegiatan yang berdampak negatif pada cadangan sumberdaya alam dan kualitas fungsi lingkungan hidup.
Berdasarkan definisi diatas, maka pembebanan biaya sebesar Rp.500/kantong plastik dapat dikategorikan sebagai disinsentif karena memiliki tujuan yang sama yaitu mengurangi kegiatan yang berdampak negatif bagi lingkungan hidup. Akan tetapi, terdapat satu peluang yang belum dilaksanakan pada kebijakan ini, yaitu pemberian insentif kepada konsumen. Seharusnya, selain memberikan beban/disinsentif kepada konsumen, kebijakan ini juga harus mendorong masyarakat yang telah menerapkan kebijakan ini dengan membawa kantong plastik/tas sendiri dari rumah dengan memberikan insentif berupa potongan harga/diskon. Alokasi dana yang digunakan untuk potongan harga atau insentif ini dapat diperoleh dari aliran uang yang berasal dari disinsentif yang diperoleh dari kebijakan yang sama.
Faktanya, saat ini jumlah pembeli yang tetap menggunakan kantong plastik masih lebih banyak daripada yang tidak menggunakan kantong plastik. Oleh karena itu, melalui skema pemberian insentif ini, pembeli yang tidak menggunakan kantong plastik diberikan potongan harga belanja sebesar Rp.500/jumlah transaksi tertentu (potongan Rp. 500/belanja Rp.10.000, atau potongan Rp 500/belanja Rp. 20.000, dan seterusnya), melalui perhitungan yang tetap harus mempertimbangkan stabilitas kas yang masuk dari disinsentif. Kebijakan ini mungkin akan berakibat pada banyaknya pembeli yang beralih untuk tidak menggunakan kantong plastik.

Kedepannya, jika masyarakat telah terbiasa dengan tidak menggunakan kantong plastik, maka kebijakan potongan harga ini dapat diubah dengan menurunkan besaran insentif yang diberikanan menjadi Rp. 200/belanja Rp. 10.000, Rp 200/belanja Rp. 20.000, dan seterusnya. Dalam jangka waktu yang lebih lama, ketika masyarakat sudah terbiasa dengan tidak menggunakan kantong plastik untuk berbelanja, maka kebijakan ini bukan tidak mungkin untuk dihapuskan. Karena pada dasarnya bagian terpenting dalam skema insentif dan disinsentif ini adalah untuk menyadarkan masyarakat untuk mengubah pola penggunaan kantong plastik dan menekan jumlah sampah plastik yang berbahaya bagi lingkungan serta berkontribusi dalam mewujudkan target pemerintah yaitu Kota Banda Aceh Bebas Sampah 2020.

(Tulisan ini terpilih sebagai salah satu finalis dalam lomba opini lingkungan yang diselenggarakan pada acara "Festival Kota Kita", memperingati Hari Bumi dan HUT Kota Banda Aceh ke 811)

Daftar Pustaka
BPS Kota Banda Aceh (2015) Banda Aceh Dalam Angka 2015. Banda Aceh: Pemerintah Kota Banda Aceh.
Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik (2015) Mengapa Kantong Plastik Berbahaya? (http://www.dietkantongplastik.info/tentang-kami), diakses 30-April-2016.
PBB (2014) World Urbanization Prospects: The 2014 Revision, Highlights (ST/ESA/SER.A/352). Department of Economic and Social Affairs.
Pemerintah Kota Banda Aceh (2015) Trikarsa Bogor, Kompilasi Rencana Program Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca Kota Banda Aceh 2015-2017. Banda Aceh: Pemerintah Kota Banda Aceh.
Pemerintah Republik Indonesia (2009) Undang-Undang Republik Indonesia No.32 Tahun 2009 Tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.
Pemerintah Republik Indonesia (2015) Surat Edaran Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan No.06/PSLB03-PS/2015 Tentang Antisipasi Penerapan Kebijakan Kantong Plastik Berbayar Pada Usaha Retail Modern. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.
Senin, 09 Mei 2016
Posted by Hafi Munirwan
Tag : ,

Perjalanan Mengikuti Seleksi Beasiswa Pendidikan Indonesia (BPI) Magister

Assalamualaikum Wr. Wb,

Rasanya sudah lama sekali saya tidak menulis di blog, mungkin dikarenakan kurangnya ide dan motivasi untuk menulis. Alhamdulilah, kali ini saya kembali berbagi sedikit pengalaman saya dalam mengikuti seleksi Beasiswa Pemerintah Indonesia (BPI), LPDP, mulai dari tahap awal hingga tahap akhir, Insya-Allah. Selain karena banyak yang bertanya, tapi juga rasanya sayang sekali jika pengalaman ini hanya saya simpan sendiri. Karena saya percaya, sukses itu bukan perolehan secara individual, tapi perolehan bersama (kolektif). Semoga semakin banyak sahabat, teman, saudara sekalian yang berhasil untuk mewujudkan mimpi melanjutkan pendidikan S-2 baik didalam maupun diluar negeri.

Sebelumnya, untuk kenal lebih dekat mengenai apakah itu LPDP? Sejarahnya, Visinya, dsb silahkan kunjungi langsung website-nya saja ya, yaitu :


A. Tahap Administrasi

Oke, karena saya rasa banyak yang sudah familiar dengan LPDP, salah satu penyedia beasiswa (Program Afirmasi, Magister, Doktoral, Tesis dsb) Kita langsung saja mulai dari seleksi tahap pertama, yaitu tahap administrasi. Pada tahapan ini kita diminta untuk melengkapi berbagai macam dokumen yang berbeda-beda setiap program. Untuk lebih lanjut silahkan cek website lpdp. Karena saya meng-apply untuk program Magister, maka saya akan coba sedikit share disini mengenai dokumen yang dibutuhkan untuk program magister, adapun berkas-berkas yang dibutuhkan diantaranya:

- Ijazah (S1)
- Transkrip Nilai
-  Surat Keterangan Izin Kerja (Bagi yang sudah bekerja)
-  Surat Keterangan Sehat, Bebas Narkoba (+ Bebas TBC untuk magister luar negeri)
-  Surat Keterangan Bebas Catatan Kriminal (SKCK)
-  Surat Rekomendasi (dari tokoh masyarakat, atau dosen juga bisa)
-  Surat Pernyataan
-  Sertifikat Bahasa Asing (TOEFL > =550, IELTS >= 6.5)
-  Letter of Acceptance (conditional atau unconditional)
- Essay dengan tiga topik : Sukses Terbesar Dalam Hidupku, Kontribusiku Bagi Indonesia, serta Rencana Studi)

Berdasarkan pengalaman saya dan beberapa teman, sangat jarang sekali ada yang gagal pada tahap ini. Yang terpenting adalah jika kita memenuhi seluruh persyaratan dengan format yang sesuai dengan format yang telah ditentukan oleh pihak LPDP, maka saya rasa kemungkinan besar pasti lulus.


B. Tahap Wawancara, Essay on The Spot dan LGD (Leaderless Group Discussion)

Menurut saya, tahap ini merupakan tahap yang paling menentukan dalam seleksi beasiswa LPDP. Oleh karena itu, usahakan persiapkan jauh-jauh hari untuk menghindari shock saat pelaksanaan seleksi. Usahakan semuanya terukur dengan baik. Ingat, kesempatan hanya akan didapatkan oleh orang-orang yang siap. So, preparation is one of the most crucial part.

Tahap ini biasanya berlangsung selama 1-3 hari, dan bisa jadi kita mendapatkan jadwal seleksi Wawancara, Essay on The Spot dan LGD pada satu hari yang sama, seperti yang saya alami saat mengikuti tahap seleksi ini yang berlokasi di Surabaya. Namun, bukan tidak mungkin juga dilakukan pada hari terpisah. Contohnya teman saya ada yang dapat jadwal wawancara di hari pertama, sedangkan jadwal Essay on The Spot dan LGD pada hari kedua.

Tahap yang pertama saya hadapi adalah Essay on The Spot, yang dijadwalkan pagi hari jam 08.00-08.25 WIB. Seingat saya, waktu yang diberikan untuk menulis essay adalah sekitar 20 menit. Adapun seleksi ini dilakukan pada satu ruangan kecil dengan kapasitas sekitar 20 orang, berisikan peserta dari dua kelompok LGD yang berbeda. Setelah duduk, soalpun dibagikan. Soal dari Essay on The Spot ini berisi dua topik yang berbeda, lengkap dengan abstraksi dari tiap topik tersebut. Peserta diminta memilih salah satu topik untuk kemudian dikembangkan menjadi essay. Dibawah soal tersebut, terdapat ruang untuk menulis essay dengan ruang yang dibatasi, tidak boleh lebih dari yang disediakan. Berdasarkan perkiraan saya, ruang tersebut cukup untuk menulis sekitar 4-5 paragraf singkat, mirip dengan writing task II pada IELTS. Adapun pada waktu itu saya mendapatkan topik :

- Realisasi Revolusi Mental dalam kehidupan masyarakat Indonesia
- Bonus Demografi, Berkah atau Musibah?

Untungnya, semalam sebelumnya saya membaca opini di salah satu media cetak mengenai hal ini, Oleh karena itu, saya sangat bersyukur karena bisa melewati tahap ini dengan baik. Adapun tips untuk menghadapi Essay on The Spot yang saya dapatkan dari blog lain adalah dengan membuat ringkasan dari topik-topik terbaru yang sedang hangat diperbincangkan, selain itu ditindak-lanjuti dengan membuat mind-mapping dari setiap topik tersebut. Hal ini akan sangat membantu, karena dapat membuat essay lebih terstruktur dan mempermudah dalam pengembangan ide. Menurut saya, mind-mapping ini cukup dengan membahas apa yang dimaksud dari topik tersebut (What), kenapa hal tersebut terjadi (Why) dan bagaimana solusinya (How).

Beberapa ide yang saya persiapkan untuk menghadapi tahap essay dan LGD diantaranya adalah:

-    Kebakaran hutan di Indonesia
-  Standar Keselamatan Gedung
-  Pelegalan Prostitusi di Jakarta
-  Bonus Demografi
-    UU No. 4 Tahun 2009 Tentang Minerba
-    Perpanjangan kontrak Freeport
-    Bela Negara
-    Revisi UU KPK
-    Hukuman kebiri bagi pelaku pedofilia
-    Hukuman mati bagi koruptor dan pengedar narkoba
-    Gojek VS Ojek Pangkalan
-    Ancaman krisis pangan
-    Pelemahan kurs rupiah
-    Paket kebijakan ekonomi jilid I-VI
-    Pembangunan gedung baru DPR
-    Sistem pendidikan di Indonesia
-    Sistem presidensial di Indonesia
-    Ujian nasional
-    HIV-AIDS
-    KPK vs POLRI
-    PSSI VS Kemenpora
-    Kondisi Sosial di Indonesia
-    Kondisi Ekonomi di Indonesia
-    Kondisi Kesehatan di Indonesia
-    Lingkungan Hidup Indonesia

Selesai menjalani seleksi essay, saya dan teman-teman satu kelompok LGD langsung diarahkan menuju ruangan untuk mengikuti tahap selanjutnya, LGD (Leaderless Group Discussion). Ruang seleksi essay bertempat di lantai tujuh Gedung Keuangan Negara Kantor Surabaya, sedangkan ruang seleksi LGD berada di lantai satu. Selama perjalanan dari dari lantai tujuh ke lantai satu, saya berkenalan dengan anggota dengan tim LGD tersebut, hal ini setidaknya cukup membantu untuk mengurangi rasa grogi dan lebih mencairkan suasana.

Masuk ke ruangan LGD, dua orang pengawas sudah menunggu di dalam, sepengetahuan saya yang satu adalah psikolog, yang satu lagi pengawas yang menilai isi yang kita bicarakan (mohon dikoreksi kalau salah). Kita kemudian diberi selembar kertas berupa berita, serta diberikan pertanyaan yang harus didiskusikan. Pada waktu itu saya mendapatkan artikel mengenai Bela Negara, Peserta diperintahkan memposisikan diri sebagai tim ahli yang bertugas merumuskan konsep bela negara.

Kalau pada tahap sebelumnya saya mampu melewatinya dengan baik, tidak demikian untuk tahap ini. Saya kesulitan untuk mengembangkan ide, terlebih sulit lagi untuk menyampaikannya dengan baik dan lancar. Tim LGD saya terdiri dari delapan orang, mungkin saya yang terburuk dalam menyampaikan ide saat itu. Tapi saya tetap berusaha, yang saya coba tekankan adalah tidak mendominasi, saya hanya bicara sebanyak tiga kali, masing-masing hanya sekitar setengah menit. Pembicaraan saya juga sebagian besar hanya menyatakan setuju terhadap pendapat rekan yang lain, dengan cara yang sesantun mungkin. Setelah berjalan sekitar 30 menit, tahap ini pun selesai. Saya keluar ruangan dengan sedikit merasa kurang puas, namun tetap optimis.

Sedikit tips menghadapi tahap LGD menurut saya, jangan mendominasi. Idealnya kita akan punya kesempatan berbicara 2-3 kali, usahakan jangan melebihi jumlah bicara dari mayoritas peserta. Dalam sedikit kesempatan bicara tersebut, coba sampaikan ide yang sederhana dan singkat, dengan menghubungkan pula dengan pendapat-pendapat dari rekan yang lain. Kata-kata seperti, "saya sepakat dengan saudara", cukup baik untuk diucapkan termasuk saat kita memiliki ide yang berbeda. Katakan kesamaan ide kita secara santun terlebih dahulu, baru berikan sedikit pendapat kita yang berbeda. Dengan menghubungkan pendapat kita dengan pendapat orang lain, berarti kita turut mendengarkan dan menghargai pendapat orang lain.

Adapun mengenai isu yang dibahas pada LGD ini hampir mirip dengan isu essay, yaitu isu nasional terbaru yang sedang hangat diperbincangkan. Sehingga, dengan rajin membaca berita tentu saja akan memberikan suatu kemudahan tersendiri untuk menjalani tahap ini.

Sedikit lesu karena merasa kurang puas saat LGD, saya pun beristirahat sejenak. Sambil merenung dan terus berdoa, saya juga tidak lupa berkenalan dengan peserta-peserta lainnya. Berdasarkan beberapa orang yang saya temui pada saat tes, yang paling dominan adalah pendaftar tujuan UK untuk magister luar negeri, serta banyak pula yang mendaftar untuk magister dalam negeri. Tidak terasa setelah berbincang-bincang dengan beberapa teman, akhirnya sudah jam 14.40 WIB, sudah saatnya jadwal wawancara saya. Dengan mengucap Bismillah, saya pun melangkah ke ruangan tes wawancara.

Ruang wawancara ini ternyata suatu ruangan besar, seperti auditorium. Seluruh proses wawancara dilaksanakan di ruangan tersebut, seluruhnya mungkin ada sekitar sepuluh meja wawancara. Saya pun langsung menuju meja saya, ditempat tersebut telah menunggu tiga orang interviewer. Setelah mengucapkan salam dan berjabat tangan, saya pun minta izin untuk duduk. Proses wawancara pun dimulai.

Interviewer pertama, sepertinya dari pihak LPDP, langsung memberikan pertanyaan : Apa motivasimu mengikuti beasiswa ini? Alhamdulillah, saya sudah berkali-kali melaksanakan simulasi wawancara bersama teman-teman saya, sehingga saya langsung jawab dengan tenang dan lancar. Seluruh pertanyaan yang diajukan oleh interviewer ini berkaitan dengan nasionalisme, integritas, kontribusi sosial di masyarakat, serta cita-cita.

Interviewer kedua, sepertinya seorang dosen. Dosen ini cukup ramah, sehingga suasana menjadi lebih cair. Adapun pertanyaan yang diberikan mengenai background pendidikan, kampus yang akan saya tuju, cita-cita, permasalahan terbesar di bidang keilmuan tersebut, bagaimana solusinya, serta prestasi akademik.

Interviewer ketiga, saya perkirakan beliau adalah psikolog. Hal yang ditanyakan oleh ibu ini sedikit lebih ringan, diantaranya: perkenalkan diri anda, keluarga, sumber penghasilan, serta idealisme.

Diluar prediksi saya, hampir seluruh pertanyaan diajukan dalam bahasa indonesia. Hanya dua pertanyaan dalam bahasa inggris, padahal saya apply untuk program magister luar negeri. Alhamdulillah, karena dalam bahasa indonesia saya lebih leluasa menjawab pertanyaan tersebut. Saya cukup beruntung, karena rekan lain ada yang menggunakan 100% bahasa inggris, padahal apply untuk magister dalam negeri.

Sedikit tips dari saya untuk menghadapi tahap wawancara, menurut saya sukses tidaknya wawancara sangat berkaitan dengan baik atau tidaknya essay yang kita tulis sebelumnya, karena pertanyaan wawancara tidak akan jauh dari seputaran essay tersebut. Jika kita mampu mengemas tulisan dengan baik, maka akan mudah pula untuk menyampaikannya saat wawancara. Tips lainnya, cobalah lakukan simulasi wawancara, baik dalam bahasa indonesia ataupun bahasa inggris. Last but not least, usahakan sudah memiliki Letter of Acceptance (LoA), baik conditional/unconditional. Berdasarkan pengalaman pribadi saya, interviewer menyatakan bahwa penilaian akan berbeda jika sudah memiliki LoA, meskipun pada akhirnya tidak akan menjamin kelulusan sesrorang. Mendapatkan LoA, tidaklah terlalu sulit khususnya untuk program magister. Teman saya bahkan telah mengantongi LoA dari beberapa universitas. Saya sendiri kebetulan saat itu Alhamdulillah sudah mendapatkan conditional offer dari Wageningen University.

Setelah mengikuti seluruh tahapan, jujur saya tidak terlalu yakin karena merasa kurang maksimal khususnya di tahap LGD dan wawancara, namun saya tetap optimis karena sudah memberikan yang terbaik. Tinggal berdoa agar diberikan hasil yang terbaik saat pengumuman yang akan keluar selang dua minggu setelah wawancara.

C. Tahap Pengumuman

Tanggal 10 Desember 2015, hari ini saya merasa agak gugup karena hari ini adalah saat pengumuman seleksi substantif (wawancara, LGD dan essay). Pukul 00.00 WIB, saya cek portal dan email tapi belum ada pemberitahuan yang masuk. Pagi dan siang, pengumuman belum juga keluar, yang semakin meningkatkan rasa gugup saya. Akhirnya sore, kira-kira pukul 17.00 WIB akhirnya email dari LPDP masuk, dan setelah membaca dengan seksama, Alhamdulillah saya dinyatakan lulus. Merasa belum terlalu yakin, saya pun membuka portal akun LPDP. Sangat sulit membuka akun ini, mungkin karena sekitar 3.000-an peserta seleksi mencoba untuk masuk. Akhirnya, malam hari sekitar jam 21.00 WIB saya berhasil login. Alhamdulillah, saya kemudian menjadi yakin karena status akun saya juga menyatakan bahwa saya telah lulus.

Terharu dan bahagia tak bisa saya hindarkan setelah menerima hasil dari seleksi substantif ini. Hal ini dikarenakan lima bulan sebelumnya saya pernah gagal dalam seleksi beasiswa daerah. Tapi saya tidak menyerah, evaluasi diri sangatlah krusial untuk dilakukan saat mengalami kegagalan. Oleh karena itu, saya mencoba fokus kembali menata cita-cita melanjutkan pendidikan magister di Eropa dengan bertolak ke Kampung Inggris, Pare. Di tempat inilah kemudian saya menemukan semangat yang baru, lingkungan yang dipenuhi oleh orang-orang yang optimis, serta meningkatkan kemampuan bahasa inggris saya.

Keberhasilan saya untuk dapat lulus beasiswa LPDP ini tidak terlepas dari keberadaan orang-orang di sekitar saya, terutama seluruh keluarga yang terus mendukung dan memberi semangat. Selain itu,  dosen pembimbing saya, Bu Dwita yang telah memberi rekomendasi dan dorongan untuk melanjutkan studi. Seluruh teman-teman terdekat mulai dari SD hingga S1, yang selalu membantu. Keluarga besar TOEFL Camp, TEST English School yang telah memberikan semangat dan inspirasi. Special thanks untuk Mr. Ryan, Fitrah, Ben dan Mr. Syahrul yang telah menjadi partner simulasi wawancara dan LGD. We can make it!

Untuk semua pihak tersebut, saya ucapkan terima kasih sedalam-dalamnya. Semoga kita bisa meraih cita-cita kita masing-masing. Saya berharap makin banyak rekan-rekan di daerah saya, Aceh serta rekan dari SD-S1 saya yang bisa berkesempatan mendapatkan pendidikan terbaik di tingkat nasional dan internasional. Aamiin

Perjuangan saya sendiri belum berakhir. Saya masih harus melengkapi berkas administrasi bahasa inggris (IELTS >= 6.00) serta mengikuti program persiapan keberangkatan (PK).  Insyaallah, Allah will give me enough power to handle all of this things.

Sekian sharing pengalaman saya dalam mengikuti seleksi beasiswa BPI, semoga bermanfaat. Jangan lupa selalu, manusia yang berusaha, namun Allah SWT yang akan menentukan jalan yang terbaik bagi hambanya.

Wassalam
Hafi Munirwan
Jumat, 11 Desember 2015
Posted by Hafi Munirwan

Terjemahkan

Tinggalkan Pesan

Flag Counter

Postingan Populer

Diberdayakan oleh Blogger.

- Copyright © Berbagi Pengalaman dan Opini -Metrominimalist- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -